Rabu, 23 Desember 2009

Keyakinan akan Tuhan

Nats: 2 Tawarikh 16:8-9

Sebuah pandangan yang positif mengenai diri sendiri sama sekali bukan merupakan suatu syarat untuk dapat melayani Tuhan. Dalam kenyataannya, rasa percaya diri yang terlalu tinggi seringkali menjadi halangan untuk menjadi sebuah bejana yang dapat dipakai Tuhan, karena rasa percaya diri tersebut timbul dari sikap bersandar pada kemampuan sendiri, dalam menghadapi orang lain dan peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Sebaliknya, keyakinan akan Tuhan adalah bersandar pada kemampuan Tuhan untuk bekerja melalui Anda, dalam menghadapi orang lain dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Di saat Anda memiliki keyakinan akan Tuhan, Anda dapat melupakan kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan menyadari bahwa apapun kondisinya Tuhan dapat tetap menyelesaikan pekerjaanNya. Di saat Anda memiliki keyakinan akan Tuhan, Anda terbebas dari kesombongan maupun rasa rendah diri. Anda dapat memusatkan pikiran pada pekerjaan yang ada dihadapan Anda dan pada kebutuhan orang lain, dan menyerahkan kepada Tuhan bagaimanapun hasilnya nanti, karena Tuhanlah yang berhak.

Apakah Anda mengerti perbedaan antara kedua konsep di atas? Sederhana saja: konsep yang pertama berfokus pada kemampuan pada diri sendiri, sedangkan konsep yang kedua berfokus pada kemampuan Tuhan. Yang pertama berfokus pada hasil yang sementara; sedangkan yang kedua berfokus pada hasil yang kekal. Jauh lebih baik bila kita menyelesaikan suatu perkara—di dalam kehidupan ini—suatu hasil yang kekal, dengan berjalan di dalam keyakinan akan Tuhan, daripada menyelesaikan banyak perkara dengan menggunakan ukuran dunia, hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia. Akan merupakan saat yang menakutkan bagi mereka yang telah membangun gereja yang besar dengan bersandar pada karisma seseorang sewaktu mereka sendiri berdiri dihadapan takhta, dan Tuhan berkata bahwa jumlah jemaat mereka yang sangat besar itu hanya merupakan rumput kering dan jerami saja. Sungguh merupakan saat yang sangat membahagiakan bagi seorang ibu rumah tangga sederhana yang dengan tenang melayani wanita lain dilingkungannya, tetapi ia melakukannya untuk kemuliaan Tuhan dan dengan kekuatan Tuhan. Besarlah hadiah yang menanti bagi wanita ini.



Manakah yang lebih penting bagi Anda? Hasil yang sementara atau hasil yang kekal?
Dalam 2 Tawarikh 16:8-9, kita mendapati sebuah perbedaan mencolok antara keyakinan akan diri sendiri dan keyakinan akan Tuhan. Sewaktu raja Asa bersandar pada Tuhan untuk memperoleh kemenangan dalam perang, ia dapat mengalahkan tentara yang sangat kuat dari bangsa Etiopia dan Libia karena ia bertindak berdasarkan pada keyakinan akan Tuhan. Tetapi dalam pertempuran selanjutnya dengan musuh-musuh Yehuda, ia bersandar pada kepintarannya sendiri dan bahkan meminta pertolongan dari bangsa penyembah berhala. Raja Asa bertindak berdasarkan keyakinan akan dirinya sendiri dan mengenai hal ini Alkitab berkata:

Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya. Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.”

Hal yang sama juga nyata bagi kita saat ini. Saat kita bersandar pada diri sendiri, atau hanya mencari penyelesaian dari manusia—melupakan segi Tuhan—kita bertindak bodoh. Sebagai hasil dari sikap kita yang akuh itu, kita akan mendapati adanya perselisihan dengan orang-orang disekitar kita. Mengapa kita begitu bodoh dalam memandang diri kita dan kemampuan kita, sementara Tuhan dengan senang hati mau melimpahkan kemampuan Nya untuk bekerja dalam diri kita? Di saat kita menempatkan keyakinan akan Tuhan dan hanya pada Tuhan, Dia berjanji untuk menguatkan kita dan berperang ganti kita (Keluaran 14:14). Itulah strategi perang yang paling baik.

1. Tuhan berkata bahwa raja Asa dan rakyatnya telah bertindak bodoh. Tindakan apakah itu?

2. Apakah hasil nyata dari tindakan bodoh mereka itu?

3. Apakah perbedaan antara keyakinan akan diri sendiri dengan keyakinan akan Tuhan menurut pengertian Anda?

4. Keyakinan apakah yang ada di dalam diri Anda: Keyakinan akan diri sendiri sendiri atau keyakinan akan Tuhan? Beri alasan bagi jawaban Anda.

5. Pokok pelajaran apakah yang Anda peroleh dalam pembahasan hari ini?

KESIMPULAN
Keyakinan akan diri sendiri adalah: Percaya pada kemampuan diri sendiri dalam menghadapi orang lain dan peristiwa yang terjadi.

Keyakinan akan Tuhan adalah: percaya pada kemampuan Tuhan yang bekerja melalui saya dalam menghadapi orang lain dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Bila saya memiliki keyakinan akan Tuhan saya dapat mengesampingkan hal-hal mengenai diri sendiri dan memusatkan perhatian pada tugas yang ada dihadapan saya.

By Gmb. Yakub Harianto, Gembala GBII (Gereja Baptis Independen Indonesia) Malioboro, Jogjakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar