Outline khotbah Pdt. Yakub H.
24 Oktober 2010
GBII Malioboro dan Batu Karang
Pendahuluan.
Hidup adalah sebuah pilihan. Setiap keputusan apapun yang saudara ambil itu merupakan pilihan yang telah saudara buat. Pilihan yang saudara buat akan membawa saudara dan menjadikan saudara.
A. Pilihan Lot – Kejadian 13:1-18
Kita tidak akan menghabiskan banyak waktu di sini tetapi biarkanlah saya sekedar menyampaikan apa yang sedang terjadi di dalam pasal ini:
Kejadian 13:1-4
Setelah kembalinya Abraham ke negeri Palestina, Abraham pergi ke Bethel dan menyembah Tuhan di Mezbah yang dia telah buat sebelumnya.
Kejadian 13:5-13
Karena besarnya kekayaan mereka berdua, negeri itu tidak cukup luas untuk mereka diam bersama-sama. Jelas mereka harus dipisah.
1. Abraham memberikan Lot yang pertama memilih.
NOTE:
2 Petrus 2:7 memberitahu kita bahwa Lot adalah orang “benar”. Namun dia tidak pernah berdoa dulu sebelum dia mengambil jalan yang akan dia kunjungi. Keputusannya sepenuhnya didasarkan pada apa yang dia lihat. Sebarapa banyak kali kita membuat pilihan yang salah karena kita membuat keputusan menurut perasaan kita daripada mencari pimpinan Tuhan.
a. Seandainya lot sudah mengetahui hasil akhir dari keputusannya itu
b. Dia tidak akan pernah “mendirikan kemahnya di dekat sodom”.
2. Lot memilih seluruh lembah Yordan yang seluruhnya terairi.
a. Daerah ini sangat subur dan indah.
b. Disamakan dengan :Taman Tuhan” -- ayat 10.
c. Lot berkemah di dekat Sodom.
Ayat 13 “Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.”
Yudas 1:7 “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.”
3. Abraham pergi dan menetap di tanah Kanaan
Kejadian 13:14-18
Lagi-lagi Allah menyatakan perhatianNya untuk Abraham.
1. Negeri ini akan menjadi milik kepunyaan Abraham dan keturunannya selama-lamanya.
2. Anak-anak Abraham akan menjadi tak terhitung banyaknya.
a. Seperti debu tanah – ayat 16
(1) Debu tanah adalah bahan yang mana manusia diciptakan.
(2) Ini menunjuk kepada anak-anak Abraham secara jasmani
b. Seperti bintang-bintang di langit.
Kejadian 15:5 “Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
(1) Ini menunjuk kepada anak-anak Abraham secara rohani.
(2) Yaitu mereka yang telah dilahirkan kembali oleh iman di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Galatia 3:29
B. Hasil Dari Pilihan Lot – Kejadian 19:1-29.
Kejadian 19:1-3
Di sini kita menyaksikan kedatangan malaikat-malaikat Allah ke dalam kota itu. Sementara mereka masuk melalui pintu gerbang kota, Lot menemui mereka. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di sini:
1. Kedudukan Lot.
a. Kejadian 13:10--Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. --
b. Kejadian 13:11—Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.
c. Kejadian 13:12—Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.
d. Tetapi sekarang dia ditemukan sedang duduk di pintu gerbang kota itu.
e. Ini adalah tempat duduk pejabat tinggi dikota itu.
Ulangan 21:19—maka haruslah ayahnya dan ibunya memegang dia dan membawa dia keluar kepada para tua-tua kotanya di pintu gerbang tempat kediamannya,
Ayat 9 – Tetapi mereka berkata: "Enyahlah!" Lagi kata mereka: "Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita!....
2. Kekayaan Lot.
a. Lot tinggal di sebuah rumah di kota besar itu—ayat 2.
b. Abaraham masih tinggal di sebuah tenda, dan masih menantikan “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” (Ibrani 11:10).
3. Kemarahan Lot.
a. Lot mengundang kedua malaikat itu masuk ke rumahnya.
b. Kedua malaikat itu menolak undangan itu dengan mengatakan bahwa mereka mau bermalam di tanah lapang (KJV—in the street)
c. Mereka lebih suka di tanah lapang dari pada tinggal di rumah tercela.
Kejadian 19:4-11
Di sini kita menemukan demonstrasi dari kejahatan Sodom.
1. Orang-orang di kota itu melihat kedua malaikat Allah ini tetapi sama sekali tidak terpikir oleh mereka bahwa mereka adalah “makhluk surgawi”.
a. Ingatlah kita pernah membahas Kejadian 6.
b. Ibrani 13:2 “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”
2. Mereka adalah orang-orang yang tidak berpikiran waras, mereka mulai terbakar oleh hawa nafsu dan mereka datang untuk membawa “tamu-tamu” ini keluar dari rumah Lot supaya mereka dapat memperkosa mereka.
a. Mereka mengepung rumah Lot –ayat 4.
b. Mereka menuntut supaya Lot membawa tamunya keluar kepada mereka—ayat 5.
3. Di sini kita menemukan betapa dalamnya Sodom sudah mempengaruhi Lot “orang benar” itu.
a. Dia menyapa orang-orang bejat ini dengan “saudara” – ayat 7.
b. Dia menawarkan dua anak gadisnya yang masih perawan kepada mereka – ayat 8.
4. Pada saat itu, saya kira malaikat-malaikat itu merasa muak menyaksikan apa yang terjadi. Malaikat itu mengulurkan tangannya dan menarik Lot masuk ke dalam rumah – ayat 10.
a. Mereka membutakan orang-orang bejat tersebut – ayat 11.
b. Tetapi orang-orang ini begitu bertekad untuk melampiaskan nafsu jahatnya, jadi walaupun mereka sekarang buta, mereka masih terus mencari pintu masuk.
Kejadian 19:12-14.
Malaikat-malaikat memerintahkan Lot membawa keluarganya dan melarikan diri dari kota itu karena hukuman Allah akan segera datang – Sodom akan dihancurkan.
1. Lot memberitahu anak-anak menantunya, tetapi mereka tidak percaya kepadanya.
Ayat 14—Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: "Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini." Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.
2. Anak-anaknya juga tidak percaya kepadanya. Ketika dia lari, dia hanya mampu membawa istrinya dan dua anak-anak perempuannya yang masih perawan.
Kejadian 19:15-29
Ketika fajar telah menyingsing, malaikat-malaikat itu memerintahkan Lot supaya segera membawa istri dan kedua anaknya. Ada beberapa point yang perlu kita pertimbangkan:
1. Malaikat-malaikat memerintahkan Lot dua hal:
a. Jangan menoleh kebelakang – ayat 17.
Istri Lot tidak taat dan dia berubah menjadi “tiang garam”
b. Larilah ke pegunungan – ayat 17.
2. Lot tidak mau pergi ke pegunungan
a. Dia mengajukan permintaan supaya diijinkan melarikan diri ke kota kecil di Zoar—ayat 18-20.
b. Malaikat-malaikat itu mengijinkannya – ayat 21.
3. Segera setelah mereka masuk ke dalam kota itu, hukuman Allah dijatuhkan—ayat 23-25.
4. Abaraham bangun dan melihat asap membumbung ke atas – ayat 27-28.
NOTE:
Alasan Allah mengeluarkan Lot dari Sodom karena Allah ingat akan doa-doa Abraham.
Ayat 29—“Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.”
Saya Sedang bergerak dan memperkuat fondasi dalam pelayanan yang akan menolong saya dan orang2 percaya lainnya mencapai kedewasaan Rohani yang maksimal dan menghasilkan buah berlipat ganda utk kemuliaan Tuhan..---Gembala Yakub Tan---
Selasa, 26 Oktober 2010
Minggu, 11 April 2010
Minggu, 21 Maret 2010
Senin, 08 Maret 2010
Tak Ada Yang Sempurna
Ibrani 13:21 -- "Memperlengkapi kamu dengan segala yang baik"
Marilah kita pikirkan kata Ini "memperlengkapi". Kata ini dalam bahasa Yunaninya adalah Katartidzo. Kata ini cukup dikenal oleh orang-orang yang menerima surat yang ditujukan kepada orang-orang Ibrani itu.
1. Para dokter mengenalnya karena kata itu berarti "menyambung kembali tulang yang patah"
2. Bagi para nelayan, kata itu berarti "memperbaiki jaring yang robek".
3. Bagi para prajurit, kata itu berarti "memperlengkapi pasukan untuk menghadapi pertempuran"
Juruselamat kita ingin menyempurnakan kita dengan memperlengkapi kita untuk menghadapi kehidupan di bumi ini.
1. Ia ingin menyambung tulang-tulang yang patah" di dalam kehidupan kita dengan demikian lembutnya, supaya kita bisa berjalan lurus dan lari dalam pertandingan hidup dengan sukses.
2. Ia ingin memperbaiki lubang-lubang pada jala supaya kita bisa menangkap lebih banyak ikan serta memenangkan jiwa-jiwa.
3. Ia ingin memperlengkapi kita dengan pertempuran supaya kita jangan jatuh ambruk dalam badai kehidupan.
Ia ingin kita tumbuh dewasa supaya Ia bisa bekerja dalam diri kita dan melalui kita sehingga kehidupan kita menyenangkan hatiNya dan menggenapkan kehendakNya.
Alat-alat yang digunakanNya untuk memperlengkapi kita adalah FirmanNya, doa, Persekutuan dalam jemaat lokal kita masing-masing, Ia juga menggunakan orang-orang percaya secara individu untuk memperlengkapi kita, dan akhirnya, Ia juga menggunakan penderitaan untuk memperlengkapi anak-anakNya.
Bacalah Filipi 2:13.
Mulailah sesuatu yang baru dalam kehidupan Anda dengan menjadikan Inrani 13:21 doa pribadi Anda hari ini. Bawalah pernyataan ini dalam doa Anda, "Tuhan jadikan aku sempurna dalam tiap pekerjaan yang kulakukan sesuai dengan kehendakMu. Bekerjalah di dalam diriku supaya hidupku menyenangkan hatiMu."
Marilah kita pikirkan kata Ini "memperlengkapi". Kata ini dalam bahasa Yunaninya adalah Katartidzo. Kata ini cukup dikenal oleh orang-orang yang menerima surat yang ditujukan kepada orang-orang Ibrani itu.
1. Para dokter mengenalnya karena kata itu berarti "menyambung kembali tulang yang patah"
2. Bagi para nelayan, kata itu berarti "memperbaiki jaring yang robek".
3. Bagi para prajurit, kata itu berarti "memperlengkapi pasukan untuk menghadapi pertempuran"
Juruselamat kita ingin menyempurnakan kita dengan memperlengkapi kita untuk menghadapi kehidupan di bumi ini.
1. Ia ingin menyambung tulang-tulang yang patah" di dalam kehidupan kita dengan demikian lembutnya, supaya kita bisa berjalan lurus dan lari dalam pertandingan hidup dengan sukses.
2. Ia ingin memperbaiki lubang-lubang pada jala supaya kita bisa menangkap lebih banyak ikan serta memenangkan jiwa-jiwa.
3. Ia ingin memperlengkapi kita dengan pertempuran supaya kita jangan jatuh ambruk dalam badai kehidupan.
Ia ingin kita tumbuh dewasa supaya Ia bisa bekerja dalam diri kita dan melalui kita sehingga kehidupan kita menyenangkan hatiNya dan menggenapkan kehendakNya.
Alat-alat yang digunakanNya untuk memperlengkapi kita adalah FirmanNya, doa, Persekutuan dalam jemaat lokal kita masing-masing, Ia juga menggunakan orang-orang percaya secara individu untuk memperlengkapi kita, dan akhirnya, Ia juga menggunakan penderitaan untuk memperlengkapi anak-anakNya.
Bacalah Filipi 2:13.
Mulailah sesuatu yang baru dalam kehidupan Anda dengan menjadikan Inrani 13:21 doa pribadi Anda hari ini. Bawalah pernyataan ini dalam doa Anda, "Tuhan jadikan aku sempurna dalam tiap pekerjaan yang kulakukan sesuai dengan kehendakMu. Bekerjalah di dalam diriku supaya hidupku menyenangkan hatiMu."
Minggu, 31 Januari 2010
ALKITAB ATAU PENGALAMAN?
Bagi orang-orang Kristen, otoritas yang menentukan apa yang benar adalah Alkitab. Apabila kita menerima dan menempatkan Alkitab sebagai satu-satu otoritas yang menentukan iman dan perbuatan kita, maka kehidupan kekristenan kita akan berhasil baik. Namun, apabila Alkitab tidak diterima dan tempatkan sebagai otoritas yang menentukan iman dan perbuatan, maka doktrin palsu dan keduniawiaan akan merusak jemaat setempat. Contohnya, Gereja2 Roma Katolik mengajarkan bahwa tradisi dan Alkitab memiliki otoritas yang sederajat. Reformasi Protestant membawa gereja kembali menerima Alkitab sebagai otoritas yang menentukan. Orang-orang Kharismatik tanpa disadari menempatkan pengalaman dan Alkitab sebagai otoritas yang sederajat bagi jemaat dan mengurangi Alkitab sebagai otoritas yang menentukan bagi orang kristen. Tipe keKristenan yang akan kita percayai sebagian besar terletak pada apakah kita menerima Alkitab sebagai otoritas yang menentukan atau tidak. Ini adalah persoalan yang vital karena “Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?” (Mazmur 11:3).
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105).
Meskipun Petrus menyaksikan Yesus berubah muka (Matius 17:1-8) , namun dia mendasari iman pada Firman Tuhan “Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi.” (2 Petrus 1:16-21). Paulus juga memiliki pengalaman rohani yang luar biasa (KPR 9:3-18) tetapi dia mendasari pengajarannya pada Firman Tuhan (Kis. 17:2).
Dua cara utama menemukan Allah.
(a)Objektif – Cara Alkitabiah untuk menemukan Allah adalah mengenalnya melalui penyataan diriNya di dalam Firman Allah. Kita mengawalinya dengan membaca (mendengar) Firman Allah, memahami kebenaran-kebenarannya, mempertimbangkannya, menerimanya ke dalam hatinya dan kemudian menanggapinya. Imannya didasarkan pada “firman yang telah disampaikan oleh para nabi (2 Petrus 1:19) yang tidak dapat diubah (Matius 5:18 — Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi) dan bukan pada perasaannya yang selalu berubah-ubah, opini manusia yang juga berubah-ubah, atau pada tradisi gereja yang dapat salah.
Setiap orang percaya diharapkan bertindak secara rasional terhadap kebenaran Allah yang objektif di dalam firmanNya.
(b)Subyektif – cara penyembah berhala menemukan allah adalah menemukannya melalui perasaan-perasaan manusia, pengalaman-pengalaman manusia, pikiran-pikiran atau tradisi-tradisi manusia mengenai Allah. Kebanyakan agama-agama penyembah berhala hanya ada sedikit penekanan terhadap doktrin dan kebanyakan penyembahan atau ibadah mereka tidak rasional dan bersifat pengalaman. Untuk mendapatkan suatu pengalaman keagamaan bermacam-macam metode dipakai, misalnya bangunannya mengesankan, mujizat-mujizat, musik-musik yang bersifat emosional, dansa, minum-minuman keras, seks, gaib. Ini merangsang indera penglihatannya, pendengarannya, pemciumannya dan sentuhannya tetapi mengurangi kekuatan dari pikiran rasionalnya. Rangsangan inderanya memberikan perasaan baik yang sering dianggap hadirat Allah – padahal dalam kenyataannya kemungkinan penglihatan, musik yang emosional atau bahkan Iblis yang mengesankannya, misalnya, seorang penyembah berhala mencari Allah dengan berusaha menemukanNya dengan menghampiri gunung yang dianggap kramat dan Iblis membantunya dengan fenomena supranatural (misalnya suara-suara asing terdengar dari pegunungan). Penyembah berhala dikesankan oleh pengalaman dan menganggap bahwa Allah sungguh-sungguh ada di dalam gunung itu.
Mengapa pengalaman penting bagi orang-orang Kharismatik?
(a)Pentakostalism didirikan atas dasar pengalaman - Agnes Ozman meminta dan menerima baptisan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa lidah. Dan berdasarkan pengalamannya (dan bukan karena pengajaran yang jelas dari Firman Allah) orang-orang lain di dalam gereja berusaha mencari pengalaman yang sama, dan gereja Pantekosta lahir dari itu. Sesudah itu, ayat-ayat alkitab dicari-cari untuk mendukung pengalaman tersebut.
(b)Orang-orang Kharismatik mengawali kehidupan Kristen mereka dengan mencari pengalaman berbicara dalam bahasa lidah. Ini menggiring mereka untuk percaya bahwa kehidupan Kristen adalah suatu rangkaian pengalaman. Mereka sering bertanya, “Sudahkah saudara memiliki pengalaman berbicara dalam bahasa lidah?” Mereka biasanya mengembangkannya keinginan mereka semakin besar dan semakin besar supaya makin mengalami hal-hal yang mengesankan.
Kepercayaan lainnya yang telah memperbesar atau menambah kepada penekanan pada pengalaman kekristenan ini?
(a)Hedonism (yaitu paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata). “allah” bagi orang-orang hedonism adalah kesenangan. Filsafatnya adalah mencari kesenangan dengan pengalaman perasaan yang luar biasa – dengan menggunakan musik, alkohol, obat-obatan dan kalau perlu dengan ilmu-ilmu gaib. Kebenaran adalah tidak penting, perasaanya yang lebih penting. Kebenaran adalah apa yang saudara rasakan, Allah adalah apa yang saudara rasakan dengan keberadaannya. Maka itu seharusnya membuat kita merasa baik.
(b)Humanism – Manusia adalah pusat dari alam semesta, bukan Allah. Bahkan di dalam gereja, alasan untuk penyembahan bukanlah Allah melainkan manusianya. Ibadah harusnya menyenangkan manusia dan dia harus menjadi fokusnya, bukan Allah. Oleh karena itu, setiap orang ingin menjadi “orang penting” di dalam gereja. Dia harus menjadi bebas untuk mengatakan apa yang dia sukai dan melakukan apa yang dia sukai. Tidak ada seorangpun yang berhak untuk menghentikannya atau mengkritiknya. Jika saudara tidak menyukainya – So what? Setiap orang ingin menjadi “orang penting” dan memiliki pengalaman khususnya sendiri.
Bagaimana orang-orang Kharismatik menafsirkan Alkitab?
Orang-orang Kharismatik ingin menyesuaikan Alkitab dengan pengalaman mereka. Ini mendorong mereka pada tegangan yang makin besar dan tidak dapat dirujuk kembali. Oleh karena itu, untuk mendamaikan perbedaan antara pengalaman mereka dan Alkitab, mereka berkata, “Itu adalah apa yang Alkitab katakan kepada saudara tetapi ini adalah apa yang Alkitab katakan kepada saya.” Atau “itu kan tafsiranmu tetapi bukan begitu cara saya menafsirkannya.” Mereka percaya bahwa ayat-ayat yang sama mungkin memiliki arti yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda. Sementara kita semua mengakui bahwa memang kita memiliki aplikasi yang bermacam-macam dari ayat-ayat yang sama, namun kita semua setuju bahwa pengertiannya dari suatu ayat adalah sama bagi semua orang Kristen. Contohnya, ketika suatu ayat mengajarkan bahwa kita “dapat melakukan segala perkara melalui Kristus” (Filipi 4:13), seseorang mungkin mengklaim janji ini untuk mengatasi dosa di dalam kehidupannya, sementara yang lainnya mungkin bertobat supaya dia tidak lagi menggunakan kekuatannya.
Bagaimana seharusnya menafsirkan Alkitab?
“The infallible rule of interpretation of Scripture is the Scripture itself and therefore, when there is a question about the true and full sense of any Scripture, it must be searched and known by other places that speak more clearly” (Westminster Confession of Faith 1.9). Ini adalah metode penafsiran Alkitab yang disebut analogi kitab suci. Karena alkitab satu-satu buku yang lengkap dan sempurna (2 Tim. 3:16; Wahyu 22:8,19) maka Alkitab adalah otoritas dan komentar kita.
a) Alkitab menafsirkan Alkitab – Seringkali penafsiran Alkitab diberikan dengan jelas oleh bagian lain di dalam Alkitab. Contohnya, nubuatan Yesaya di dalam Yesaya 7:14 dikatakan digenapi di dalam kelahiran Kristus (Mat. 1:22). Di dalam kasus demikian tidak ada keraguan mengenai apa maksud nubuatan tersebut dan tidak seorang pun yang harus menciptakan pengertian baru lainnya terhadap hal yang telah jelas diberikan oleh Allah.
b) Tafsirkan Alkitab di dalam konteksnya – Konteks adalah bagian dari teks yang memimpin dan mengikut pasal itu – Ketika kita mengambil teks diluar konteks itu dengan mudah membuat sebuah dalih!! Contohnya, 1 Korintus 3:15 bagaimana ditafsirkan oleh roma Katolik diluar konteks di mana dia menafsirkan itu sebagai api penyucian (Purgatory). Padahal di dalam konteksnya kita membaca bahwa itu adalah standar Allah yang tinggi untuk menilai pekerjaan kita untukNya.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105).
Meskipun Petrus menyaksikan Yesus berubah muka (Matius 17:1-8) , namun dia mendasari iman pada Firman Tuhan “Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi.” (2 Petrus 1:16-21). Paulus juga memiliki pengalaman rohani yang luar biasa (KPR 9:3-18) tetapi dia mendasari pengajarannya pada Firman Tuhan (Kis. 17:2).
Dua cara utama menemukan Allah.
(a)Objektif – Cara Alkitabiah untuk menemukan Allah adalah mengenalnya melalui penyataan diriNya di dalam Firman Allah. Kita mengawalinya dengan membaca (mendengar) Firman Allah, memahami kebenaran-kebenarannya, mempertimbangkannya, menerimanya ke dalam hatinya dan kemudian menanggapinya. Imannya didasarkan pada “firman yang telah disampaikan oleh para nabi (2 Petrus 1:19) yang tidak dapat diubah (Matius 5:18 — Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi) dan bukan pada perasaannya yang selalu berubah-ubah, opini manusia yang juga berubah-ubah, atau pada tradisi gereja yang dapat salah.
Setiap orang percaya diharapkan bertindak secara rasional terhadap kebenaran Allah yang objektif di dalam firmanNya.
(b)Subyektif – cara penyembah berhala menemukan allah adalah menemukannya melalui perasaan-perasaan manusia, pengalaman-pengalaman manusia, pikiran-pikiran atau tradisi-tradisi manusia mengenai Allah. Kebanyakan agama-agama penyembah berhala hanya ada sedikit penekanan terhadap doktrin dan kebanyakan penyembahan atau ibadah mereka tidak rasional dan bersifat pengalaman. Untuk mendapatkan suatu pengalaman keagamaan bermacam-macam metode dipakai, misalnya bangunannya mengesankan, mujizat-mujizat, musik-musik yang bersifat emosional, dansa, minum-minuman keras, seks, gaib. Ini merangsang indera penglihatannya, pendengarannya, pemciumannya dan sentuhannya tetapi mengurangi kekuatan dari pikiran rasionalnya. Rangsangan inderanya memberikan perasaan baik yang sering dianggap hadirat Allah – padahal dalam kenyataannya kemungkinan penglihatan, musik yang emosional atau bahkan Iblis yang mengesankannya, misalnya, seorang penyembah berhala mencari Allah dengan berusaha menemukanNya dengan menghampiri gunung yang dianggap kramat dan Iblis membantunya dengan fenomena supranatural (misalnya suara-suara asing terdengar dari pegunungan). Penyembah berhala dikesankan oleh pengalaman dan menganggap bahwa Allah sungguh-sungguh ada di dalam gunung itu.
Mengapa pengalaman penting bagi orang-orang Kharismatik?
(a)Pentakostalism didirikan atas dasar pengalaman - Agnes Ozman meminta dan menerima baptisan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa lidah. Dan berdasarkan pengalamannya (dan bukan karena pengajaran yang jelas dari Firman Allah) orang-orang lain di dalam gereja berusaha mencari pengalaman yang sama, dan gereja Pantekosta lahir dari itu. Sesudah itu, ayat-ayat alkitab dicari-cari untuk mendukung pengalaman tersebut.
(b)Orang-orang Kharismatik mengawali kehidupan Kristen mereka dengan mencari pengalaman berbicara dalam bahasa lidah. Ini menggiring mereka untuk percaya bahwa kehidupan Kristen adalah suatu rangkaian pengalaman. Mereka sering bertanya, “Sudahkah saudara memiliki pengalaman berbicara dalam bahasa lidah?” Mereka biasanya mengembangkannya keinginan mereka semakin besar dan semakin besar supaya makin mengalami hal-hal yang mengesankan.
Kepercayaan lainnya yang telah memperbesar atau menambah kepada penekanan pada pengalaman kekristenan ini?
(a)Hedonism (yaitu paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata). “allah” bagi orang-orang hedonism adalah kesenangan. Filsafatnya adalah mencari kesenangan dengan pengalaman perasaan yang luar biasa – dengan menggunakan musik, alkohol, obat-obatan dan kalau perlu dengan ilmu-ilmu gaib. Kebenaran adalah tidak penting, perasaanya yang lebih penting. Kebenaran adalah apa yang saudara rasakan, Allah adalah apa yang saudara rasakan dengan keberadaannya. Maka itu seharusnya membuat kita merasa baik.
(b)Humanism – Manusia adalah pusat dari alam semesta, bukan Allah. Bahkan di dalam gereja, alasan untuk penyembahan bukanlah Allah melainkan manusianya. Ibadah harusnya menyenangkan manusia dan dia harus menjadi fokusnya, bukan Allah. Oleh karena itu, setiap orang ingin menjadi “orang penting” di dalam gereja. Dia harus menjadi bebas untuk mengatakan apa yang dia sukai dan melakukan apa yang dia sukai. Tidak ada seorangpun yang berhak untuk menghentikannya atau mengkritiknya. Jika saudara tidak menyukainya – So what? Setiap orang ingin menjadi “orang penting” dan memiliki pengalaman khususnya sendiri.
Bagaimana orang-orang Kharismatik menafsirkan Alkitab?
Orang-orang Kharismatik ingin menyesuaikan Alkitab dengan pengalaman mereka. Ini mendorong mereka pada tegangan yang makin besar dan tidak dapat dirujuk kembali. Oleh karena itu, untuk mendamaikan perbedaan antara pengalaman mereka dan Alkitab, mereka berkata, “Itu adalah apa yang Alkitab katakan kepada saudara tetapi ini adalah apa yang Alkitab katakan kepada saya.” Atau “itu kan tafsiranmu tetapi bukan begitu cara saya menafsirkannya.” Mereka percaya bahwa ayat-ayat yang sama mungkin memiliki arti yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda. Sementara kita semua mengakui bahwa memang kita memiliki aplikasi yang bermacam-macam dari ayat-ayat yang sama, namun kita semua setuju bahwa pengertiannya dari suatu ayat adalah sama bagi semua orang Kristen. Contohnya, ketika suatu ayat mengajarkan bahwa kita “dapat melakukan segala perkara melalui Kristus” (Filipi 4:13), seseorang mungkin mengklaim janji ini untuk mengatasi dosa di dalam kehidupannya, sementara yang lainnya mungkin bertobat supaya dia tidak lagi menggunakan kekuatannya.
Bagaimana seharusnya menafsirkan Alkitab?
“The infallible rule of interpretation of Scripture is the Scripture itself and therefore, when there is a question about the true and full sense of any Scripture, it must be searched and known by other places that speak more clearly” (Westminster Confession of Faith 1.9). Ini adalah metode penafsiran Alkitab yang disebut analogi kitab suci. Karena alkitab satu-satu buku yang lengkap dan sempurna (2 Tim. 3:16; Wahyu 22:8,19) maka Alkitab adalah otoritas dan komentar kita.
a) Alkitab menafsirkan Alkitab – Seringkali penafsiran Alkitab diberikan dengan jelas oleh bagian lain di dalam Alkitab. Contohnya, nubuatan Yesaya di dalam Yesaya 7:14 dikatakan digenapi di dalam kelahiran Kristus (Mat. 1:22). Di dalam kasus demikian tidak ada keraguan mengenai apa maksud nubuatan tersebut dan tidak seorang pun yang harus menciptakan pengertian baru lainnya terhadap hal yang telah jelas diberikan oleh Allah.
b) Tafsirkan Alkitab di dalam konteksnya – Konteks adalah bagian dari teks yang memimpin dan mengikut pasal itu – Ketika kita mengambil teks diluar konteks itu dengan mudah membuat sebuah dalih!! Contohnya, 1 Korintus 3:15 bagaimana ditafsirkan oleh roma Katolik diluar konteks di mana dia menafsirkan itu sebagai api penyucian (Purgatory). Padahal di dalam konteksnya kita membaca bahwa itu adalah standar Allah yang tinggi untuk menilai pekerjaan kita untukNya.
Sabtu, 23 Januari 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)









